Dari Ayek Kawo Hiingga Tradisi Bumbung, Kukerta UNJA Posko 5 Dorong Warisan Koto Tengah Masuk Era Digital

Dari Ayek Kawo Hiingga Tradisi Bumbung, Kukerta UNJA Posko 5 Dorong Warisan Koto Tengah Masuk Era Digital

JAMBICORNER.COM, KERINCI – Warisan budaya lokal tidak boleh berhenti sebagai cerita yang hanya dikenal oleh generasi terdahulu. Di tengah perkembangan teknologi, kearifan masyarakat desa perlu didokumentasikan, diperkenalkan kembali kepada generasi muda, dan dipublikasikan agar tetap menjadi bagian dari identitas daerah.

Gagasan inilah yang diangkat mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Jambi Posko 5 di Desa Koto Tengah, Kecamatan Danau Kerinci Barat, Kabupaten Kerinci, melalui tema Kuliah Kerja Nyata Universitas Jambi Program reguler Semester Ganjil 2026/2027 “Digitalisasi Warisan Budaya Lokal sebagai Penguatan Identitas Desa”.

Memasuki pertengahan masa pengabdian mahasiswa, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jambi melakukan monitoring dan evaluasi (monev) untuk melihat langsung perkembangan program kerja mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) di lokasi pengabdian.

Kali ini, monitoring dan evaluasi menyasar Kukerta Universitas Jambi Posko 5 di Desa Koto Tengah, Kecamatan Danau Kerinci Barat, Kabupaten Kerinci. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memeriksa progres program kerja, melihat kesesuaian kegiatan dengan kebutuhan masyarakat, serta memastikan program yang dirancang mahasiswa terus berjalan hingga akhir masa pengabdian.

Monev dilakukan langsung oleh Sekretaris LPPM Universitas Jambi, Drs. Marzul Hidayat, M.A., Ph.D., bersama staf LPPM yang hadir. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Posko 5 memaparkan perkembangan program kerja, hasil observasi lapangan, serta rencana tindak lanjut sejumlah kegiatan yang masih berjalan.

Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Desa Koto Tengah, Zulpahmi, didampingi perangkat desa. Sementara pelaksanaan Kukerta Posko 5 berada di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Tri Imam Munandar, S.H., M.H., dan Lusi Handayani, S.Sn., M.Sn.

Monev ini menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana program yang telah disusun mahasiswa dapat diterapkan di tengah masyarakat. Tidak hanya berorientasi pada penyelesaian kegiatan, evaluasi juga diperlukan agar pengabdian mahasiswa tetap sejalan dengan kebutuhan desa dan menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Ayek Kawo dan Bumbung Jadi Perhatian

Mengusung tema “Digitalisasi Warisan Budaya Lokal sebagai Penguatan Identitas Desa”, Kukerta Posko 5 menempatkan pelestarian potensi budaya sebagai salah satu fokus utama program kerja.

Dua potensi lokal yang diangkat adalah Ayek Kawo, minuman khas Kerinci, dan tradisi Bumbung yang menjadi bagian dari kearifan masyarakat Desa Koto Tengah dalam menghadapi kondisi musim kemarau, kebakaran, hingga kabut asap.

Keduanya dinilai memiliki nilai pengetahuan lokal yang perlu didokumentasikan agar tetap dikenal oleh generasi muda.

Melalui program video dokumenter, mahasiswa berupaya merekam potensi dan tradisi tersebut sehingga dapat menjadi bahan pengenalan budaya bagi masyarakat desa maupun orang-orang di luar Kerinci.

Ketua Posko 5, Muhammad Arif Safwan, menjelaskan bahwa tema digitalisasi warisan budaya lokal berangkat dari keinginan untuk membantu menjaga kekayaan desa melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman, keberadaan mahasiswa di desa tidak seharusnya hanya diisi dengan kegiatan seremonial. Mahasiswa perlu melihat potensi yang dimiliki masyarakat, memahami persoalan di lapangan, lalu menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

“Bagi kami, Kukerta bukan hanya tentang menjalankan program kerja selama berada di desa. Kami ingin menggali potensi yang dimiliki masyarakat dan membantu agar potensi tersebut dapat dikenal lebih luas. Ayek Kawo dan tradisi Bumbung merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu didokumentasikan agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar Arif.

Ia mengatakan, penggunaan media digital diharapkan menjadi salah satu cara untuk menjaga rekam jejak budaya lokal tanpa menghilangkan nilai dan pengetahuan yang diwariskan masyarakat.

“Melalui video dokumenter, kami ingin membantu mengabadikan cerita, proses, dan pengetahuan lokal yang ada di Desa Koto Tengah. Harapannya, dokumentasi ini dapat menjadi arsip budaya sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda agar semakin mengenal dan menghargai identitas desanya,” tambahnya.

Monev Memeriksa Progres Program di Lapangan

Selain pelestarian budaya, monitoring dan evaluasi juga menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan program kerja lain yang disusun berdasarkan hasil observasi awal mahasiswa.

Dalam observasi tersebut, mahasiswa menemukan sejumlah kebutuhan di Desa Koto Tengah. Di antaranya pemanfaatan limbah sekam padi yang belum optimal, perlunya peningkatan edukasi pemilahan sampah, serta kebutuhan informasi wilayah yang lebih mudah diakses masyarakat dan pendatang.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Posko 5 menyusun beberapa program, yakni pemanfaatan sekam padi menjadi briket, pembuatan papan edukasi sampah, dokumentasi Ayek Kawo dan Bumbung, pemasangan plang nama jalan, pemetaan desa melalui Google Maps, serta pembuatan dan pencetakan peta fisik desa.

Dalam pemaparan progres, mahasiswa menyampaikan perkembangan setiap program sekaligus rencana penyelesaian kegiatan yang masih berjalan.

Berdasarkan dokumen laporan kerja Posko 5, pemetaan desa melalui Google Maps, pemasangan plang nama jalan, dan papan edukasi sampah masing-masing tercatat mencapai progres 100 persen.

Sementara itu, program briket sekam padi tercatat mencapai 75 persen, pembuatan peta desa mencapai 65 persen, dan video dokumenter Ayek Kawo serta Bumbung berada pada progres 50 persen.

Angka tersebut menjadi gambaran perkembangan kegiatan pada saat laporan disusun. Program yang masih berjalan memerlukan tindak lanjut agar target yang telah direncanakan dapat diselesaikan.

Melalui monev, perkembangan tersebut dapat dipaparkan kepada LPPM sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi mahasiswa dalam menentukan prioritas penyelesaian program.

Program Lingkungan dan Informasi Desa

Program briket sekam padi dirancang untuk mengenalkan pemanfaatan limbah hasil penggilingan padi menjadi produk yang memiliki nilai guna. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat mengenai alternatif pemanfaatan limbah yang selama ini belum optimal.

Mahasiswa juga menyiapkan papan edukasi sampah yang memuat informasi tentang jenis sampah, pemilahan sampah organik dan anorganik, serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Di bidang informasi wilayah, pemasangan plang nama jalan ditujukan untuk membantu masyarakat dan pendatang mengenali lokasi serta menemukan alamat tujuan dengan lebih mudah.

Pemetaan melalui Google Maps menjadi pelengkap upaya tersebut. Melalui pemetaan digital, lokasi dan fasilitas penting di desa diharapkan lebih mudah ditemukan. Mahasiswa juga menyiapkan peta fisik yang memuat informasi wilayah, batas desa, nama jalan, serta fasilitas umum dan tempat penting.

Rangkaian program ini memperlihatkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya berfokus pada pelestarian budaya, tetapi juga menyentuh kebutuhan praktis masyarakat, mulai dari lingkungan hingga akses informasi desa.

Ketua Posko 5 Muhammad Arif Safwan menegaskan, monev menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk melihat kembali perkembangan kegiatan yang telah dijalankan selama berada di desa, keberhasilan Kukerta tidak cukup diukur dari banyaknya program yang tercantum dalam laporan. Hal yang lebih penting adalah kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat, penyelesaian kegiatan sesuai target, serta kebermanfaatan hasilnya setelah mahasiswa menyelesaikan pengabdian.

“Kami menyambut baik monitoring dan evaluasi ini karena menjadi kesempatan bagi kami untuk menyampaikan perkembangan program kerja secara langsung. Kami juga dapat melihat kembali bagian mana yang sudah berjalan dan bagian mana yang masih perlu dituntaskan. Target kami, seluruh program yang direncanakan bisa diselesaikan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Koto Tengah,” ujar Arif.

Ia menambahkan, keberlanjutan program juga membutuhkan dukungan pemerintah desa dan masyarakat. Karena itu, mahasiswa berupaya membangun komunikasi serta kolaborasi agar hasil kegiatan dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan desa.

“Kami berharap program yang telah dikerjakan tidak berhenti setelah masa Kukerta berakhir. Dokumentasi budaya dapat menjadi arsip desa, pemetaan wilayah bisa membantu masyarakat mencari informasi lokasi, sementara program lingkungan diharapkan mendorong kepedulian terhadap kebersihan dan pemanfaatan limbah,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tujuan pengabdian bukan semata-mata menyelesaikan kewajiban akademik, melainkan berusaha meninggalkan hasil yang dapat digunakan dan dikembangkan oleh masyarakat.

Evaluasi untuk Menjaga Arah Pengabdian

Kehadiran Sekretaris LPPM bersama staf dalam kegiatan monitoring dan evaluasi menjadi bagian dari pengawasan terhadap pelaksanaan Kukerta di lapangan.

Melalui pemaparan progres program, LPPM dapat memperoleh gambaran mengenai kegiatan yang telah berjalan, capaian sementara, serta rencana tindak lanjut yang disiapkan mahasiswa.

Bagi Posko 5, evaluasi pada pertengahan masa pengabdian menjadi pengingat bahwa setiap program membutuhkan perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian yang terukur.

Dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan serta dukungan pemerintah desa, mahasiswa diharapkan dapat menyelesaikan kegiatan yang masih berjalan sekaligus menjaga kesesuaian program dengan tema besar Kukerta Universitas Jambi tahun akademik 2026/2027.

Pada akhirnya, Ayek Kawo, tradisi Bumbung, pengelolaan lingkungan, dan pemetaan desa menjadi bagian dari upaya mahasiswa mengenali serta mengembangkan potensi Desa Koto Tengah.

Bagi Kukerta Posko 5, monev bukan sekadar pemeriksaan laporan, melainkan momentum untuk memastikan bahwa pengabdian yang dijalankan tetap berada pada jalurnya: menjaga warisan budaya, menjawab kebutuhan masyarakat, dan menghadirkan manfaat yang dapat diteruskan setelah mahasiswa kembali ke kampus.(*)