Kehidupan Pahit RA: Terhimpit Beban Keluarga dan Kekerasan, Mengharap Keadilan

Kehidupan Pahit RA: Terhimpit Beban Keluarga dan Kekerasan, Mengharap Keadilan

RA, siswi kelas XI SMK Negeri 1 Kota Jambi (Jambicorner.com/Dani)

JAMBICORNER.COM, JAMBI – RA, siswi kelas XI SMK Negeri 1 Kota Jambi, merasakan pahitnya kehidupan yang penuh dengan keterbatasan dan cobaan. Bertahun-tahun ia hidup dalam sebuah rumah panggung yang reyot dan hampir rubuh di Pematang Sulur, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Rumah tersebut, yang sebenarnya merupakan tempat tinggal sementara, merupakan warisan saudaranya. RA tinggal bersama ayahnya, ibu, dan dua adiknya yang masih kecil.

Ayah RA, yang hanya seorang juru parkir, sehari-hari bekerja keras di bawah terik matahari. Pendapatannya yang terbatas, sekitar Rp100 ribu per hari, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, apalagi untuk membeli makanan bergizi. Ibu RA hanya seorang ibu rumah tangga yang juga berjuang dengan segala keterbatasan. Hidup mereka semakin berat setelah ayah RA, berinisial E, ditetapkan sebagai tersangka oleh Satreskrim Polresta Jambi.

Kisah RA semakin rumit ketika dirinya menjadi korban bullying dari sesama siswa di sekolahnya. MS, rekan sekolah RA yang dikenal sejak SMP, terus menerus menghancurkan mental dan emosionalnya. Tidak hanya itu, perilaku MS juga menciptakan suasana tidak aman di lingkungan sekolah.

Pada Selasa, 13 Agustus 2024, sekitar pukul 13.30 WIB, saat jam istirahat di SMK Negeri 1 Kota Jambi, RA mengalami peristiwa yang mengubah kehidupannya. Saat menuju toilet, dan hendak kembali ke kelas, ia mendapati pintu kelas terkunci dari dalam. Panik dan penuh emosi, RA langsung menghubungi ayahnya, menceritakan semua kekejaman yang telah ia alami dari MS.

“Sejak lama saya tidak sanggup dengan semua perlakuan MS terhadap saya. Rasa panik dan takut selalu menghantui saya,” ujar RA sambil terisak.

Ayah RA segera datang ke sekolah untuk mencari tahu siapa yang berani menyakiti putrinya. Setelah meminta izin dari guru, E bertanya siapa yang bernama MS. Namun, MS, yang saat itu tertawa sinis, hanya mengacungkan tangan sambil berlari menjauh tanpa rasa penyesalan.

Harapan keluarga RA untuk menemukan solusi atas masalah ini justru berbalik menjadi masalah baru. Tindak lanjut dari kejadian tersebut berujung pada laporan balik dari pihak ayah MS, yang melaporkan E atas dugaan kekerasan terhadap anak.

Dengan kondisi yang semakin terjepit, RA dan keluarganya merasa semakin tertekan. Melalui tangisan dan ketidakberdayaan, RA memohon agar suara mereka didengar oleh pihak-pihak berwenang. Ia berharap kepada Presiden Prabowo Subianto, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Jambi Al Haris, dan Kapolda Jambi Irjen Pol Rusdi Hartono untuk memberikan keadilan dan menghentikan lingkaran ketidakadilan yang tengah menimpa keluarganya.

“Semoga ada yang mendengar dan memberikan kami keadilan,” harap RA, dengan suara penuh harapan.